Wednesday, 1 January 2014

Akuntansi Pajak

Setiap pembayaran/pemungutan/pemotongan pajak yang dilakukan perusahaan adalah transaksi finansial yang harus dicatat sesuai dengan tugas dan fungsi akuntansi.
Pajak mempunyai beberapa sifat sbb :
1.     Pajak merupakan Iuran masyarakat kepada pemerintah yang pembayarannya dapat dipaksakan.  Karena dapat dipaksakan ini sering petugas pajak berlaku sewenang-wenang dalam menjalankan tugasnya. Hal ini juga dipicu oleh banyaknya wajib pajak yang tidak memenuhui kewajibannyanya sebagaimana mestinya serta  kekeliruan dalam mencatat transaksi, khususnya yang berhubungan dengan pajak. Pemungutan pajak berdasarkan undang-undang dan berpihak kepada kepentingan pemerintah. Banyak pengusaha menilai undang-undang dan pertauran perpajakan tidak kondusif.
2.     Pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah
3.     Wajib pajak tidak mendapat imbalan jasa (kontraperstasi) secara langsung, akan tetapi wajib pajak mendapat perlindungan dari negara dalam mendapatkan pelayanan sesuai haknya sebagai warga negara.
4.     Pajak mempunyai fungsi mengatur sektor sosial, ekonomi maupun budaya.
Berdasarkan cara pemungutannya (khususnya pajak pusat) dapat dibagi atas:
a.     Pajak langsung, Pajak Penghasilan, Pajak kekayaan yang dikenakan berulang-ulang pada waktu tertentu sesuai undang-undang. Pajak penghasilan dan pajak kekayaan ditanggung dan dibayar oleh wajib pajak dan tidak dapat dipindahkan kepada pihak lain.
b.     Pajak tidak langsung, Pajak Penjualan, Bea meterai, dikenakan pada saat terjadinya perbuatan/transaksi kena pajak, dapat dipindahkan kepada pihak lain.
Berikut ini adalah beberapa jenis pajak yang secara umum selalu dihadapi oleh perusahaan :
Pajak penghasilan Perseroan : Pajak yang dipungut atas penghasilan (laba bersih)
Walaupun penentuan besarnya Pph,  berdasarkan penghasilan bersih menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Akhir, Wajib pajak diminta untuk melakukan angsuaran bulanan. Maka mencatat angsuran pajak perseroan dicatat sebagai beban/Pajak dibayar dimuka.
Beban/Pajak Dibayar dimuka                             x,xxx,xxx
     Kas                                                                                 x,xxx,xxx

Pada akhir tahun Beban/Pajak dibayar dimuka dilakukan penyesuaaian dengan kewajiban pajak sesungguhnya.
Pajak penghasilan karyawan (Pph 21) yaitu pajak menjadi beban karyawan atas penghasilan yang diperoleh. Dengan demikian pajak ini tidak merupakan beban perusahaan. Dalam hal ini perusahaan hanya berkewajiban menghitung dan memotong gaji/upah. Oleh karena itu setiap  terjadi pemotongan yang telah dilaksanakan timbul utang kepada pemerintah sampai dlakukan penyetoran ke kas negara.
Jurnal pencatatan PPh 21
a.     Pada saat pemotongan (dilakukan pada saat pembayaran gaji)
Biaya Gaji
x,xxx,xxx
 
……Pajak penghasilan (PPh 21)……Kas ( Gaji yang dibayarkan) x,xxx,xxxx,xxx,xxx
 
 


b.     Saat menyetor ke kas negara
Pajak penghasilan (pph 21)
x,xxx,xxx
 
…… Kas  x,xxx,xxx

 
 

Penyetoran pajak pengahasilan (Pph) pasal 21 adalah penyetoran kewajiban karyawan yang dipotong dari penghasilannya sesuai undang-undang yang tidak terkait dengan asset/beban/biaya perusahaan sehingga mencatat penyetoran pajak penghasilah sebagai biaya dibayar dimuka adalah kekeliruan.
Ppn, Biaya meterai adalah pajak yang dikenakan pada saat terjadinya transaksi kena pajak (penjualan), biasanya dibebankan kepada pembeli.  PPn merupakan bagian dari beban/biaya  bukan Asset dan dapat dipindahkan kepada pihak lain bila barang tersebut dijual. PPn, Biaya meterai juga tidak dicatat sebagai biya dibayar dimuka
Pada saat membeli barang yang dikenakan PPn timbul kewajiban atas PPn (ppn Masukan) yang merupakan bagian dari rekening Pasiva (Hutang). Dalam pembayaran pembelian tersebut sebagian kas yang dibayarkan adalah untuk membayar Utang PPn tersebut. (tidak ada hubungannya dengan biaya dibayar dimuka). Pada saat menjual,  perusahaan berkewajiban memungut pajak atas penjualan barang kena pajak,(PPn Keluaran)  sehingga timbul utang kepada negara dan hutang tersebut dapat dikompensasikan langsung dengan beban pajak yang terjadi pada saat membeli barang tersebut (Ppn Masukan). Bila PPn Keluaran lebih besar dari PPn Masukan maka pada neraca akan terlihat sebagai hutang sedangkan bila PPn Masukan lebih besar dari pada PPn keluaran tidak akan ditampilkan pada neraca karena dicatat sebagai beban perusahaan. Pencatatan Ppn sebagai biaya dibayar dimuka adalah kekeliruan.
Bertuk Jurnal PPn.
Saat Pembelian
Pembelian/Persediaan barang dagangx,xxx,xxx 
Ppn                                                        
x,xxx,xxx 
……Kas/utang   x,xxx,xxx
 
 


Saat  Penjualan
Kas/Piutangx,xxx,xxx 
      Penjualan x,xxx,xxx
      Ppn   x,xxx,xxx
 
 


Jika Saat pembelian dicatat sebagai persediaan maka
Persediaan                                              x,xxx,xxx
     Harga Pokok                                                                   x,xxx,xxx

Bila pada periode tertentu menaca menunjukan adanya hutanng PPn, maka utang tersebut berarti ppn keluaran lebih besar dari pada ppn masukan dan kelebihan tersebut harus disetor ke kas negara.
Jurnal Pada Saat Penyetoran ke kas negara
PPn                                                         x,xxx,xxx
     Kas                                                                       x,xxx,xxx

Ppn tidak pernah menjadi asset perusahaan, pada pt. sinarindo dicatat demikianA
Penggunaan dana perusahaan yang disebutkan sebagai piutang pemegang saham, oleh petugas pajak dapat dianggap sebagai penghasilan bagi pemegang saham, dan dikenakan Pph.

Perhitungan PPN.
Ada dua cara untuk menghitung ppn yaitu :
Exclude PPn (Excl)  : Yaitu  PPn dihitung  n % dari nilai jual barang /Jassa kena pajak setelah dikurangi discount.
Include PPn (InCl) : Yaitu Nilai Jual sudah termasuk PPn  n %
Non PPn adalah bentuk transaksi hanya berlaku untuk penyerahan barang dan jasa tidak kena pajak.

Pengantar Akuntansi Perpajakan

taxaccounting_a
Informasi akuntansi dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan melaksanakan fungsi perencanaan, organisasi, koordinasi, pelaksanaan, pengendalian, serta pengambilan keputusan, baik bagi pihak manajemen / pihak luar, yang salah satunya pihak Dirjen Pajak. Dalam hal pajak, maka akuntansi pajak akan mengurai neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal & laporan jurnal.

Akuntansi untuk dinilai dari sifat pelaporannya, kemudian dibagi menjadi 2 (dua) output :
Akuntansi Komersial yang sifatnya memberi informasi kepada pihak internal perusahaan / manajemen, serta pihak eksternal perusahaan (diluar Dirjen Pajak) untuk menyediakan informasi dalam fungsi manajemen yang dihasilkan oleh akuntansi keuangan.

Akuntansi Fiskal merupakan jenis akuntansi yang berbasis informasi akuntansi yang disusun berdasarkan pada Undang-Undang & Peraturan Perpajakan yg berlaku & khusus digunakan untuk keperluan penghitungan Pajak Penghasilan (PPh Badan) perusahaan (UD, CV, PT dan BUT).

Akuntansi Pajak mambahas transaksi penting badan & berbagai Peraturan Perpajakan terkait serta pengaruhnya terhadap laporan keuangan yang khususnya menentukan besarnya laba perusahaan. Misal, penjualan & pembelian, sewa, merger, pengalihan hak milik, dan lain-lain. Akuntansi pajak berperan & diterapkan dalam perusahaan perseroan (PT) & lebih berkepentingan dengan berbagai alternatif tindakan yang dapat meminimumkan nilai pajak terhutang sepanjang diperkenankan oleh Undang Undang / Peraturan Perpajakan.

Disisi lain, kebutuhan akuntansi diatur juga dalam Hukum Perdata & Hukum Dagang yang memuat ketentuan hukum tentang “Kewajiban Pembukuan” dalam Pasal 6 KUHD sebagai berikut : “bahwa siapapun juga yang melakukan perusahaan, diharuskan mengadakan pembukuan tentang semua kejadian mengenai perusahaan sedemikian rupa sehingga dari catatan pembukuan itu setiap waktu, dapat diketahui hak dan kewajiban terhadap pihak ketiga.”

Dari sisi Departemen Keuangan Republik Indonesia dalam seksi Dirjen Perpajakan, hal itu diatur dalam Pasal 28 ayat (1) UU No. 16 tahun 2000 tentang Ketentuan Umum Perpajakan (KUP) sebagai berikut : “Wajib Pajak Orang Pribadi (WP-OP) yang melakukan kegiatan usaha / pekerjaan bebas dan Wajib Pajak Badan (WP-Badan) di Indonesia wajib menyelenggarakan pembukuan.”

Sedangkan untuk Wajib Pajak yang melakukan kegiatan usaha / pekerjaan bebas jika TIDAK memenuhi persyaratan pembukuan dimungkinkan untuk tidak menyelenggarakan pembukuan tetapi tetap diwajibkan melakukan pencatatan. Dimana perbedaan utama PEMBUKUAN versus PENCATATAN ialah :
Pembukuan dijalankan dengan maksud di akhir proses pembukuan dapat dihasilkan laporan keuangan. Berikutnya pembukuan dapat mengetahui penghasilan bersih (netto) dan Pendapatan Kena Pajak melalui perhitungan / laporan laba-rugi (income statement).

Pencatatan dijalankan dengan maksud hanya sekedar mengetahui peredaran usaha & harga pokoknya. Berikutnya dapat mengetahui penghasilan bersih (netto) melalui pemakaian Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN).

Persyaratan dari Aktifitas Pembukuan
1. Pembukuan / pencatatan harus diselenggarakan dengan itikad baik & mencerminkan keadaan / kegiatan usaha yang sebenarnya.

2. Pembukuan minimal terdiri dari catatan mengenai harta aktiva, kewajiban / hutang, modal, biaya, penghasilan, serta laporan penjualan & pembelian.

3. Pembukuan harus ditutup setiap akhir tahun dengan membuat neraca, laporan Laba Rugi berdasarkan prinsip pembukuan yang taat azas (konsisten) dengan tahun sebelumnya, serta dengan stelsel akrual / stelsel kas.

4. Pembukuan / pencatatan harus diselenggarakan di Indonesia dengn huruf Latin, angka Arab, dengan bahasa Indonesia & satuan mata uang rupiah atau dengan bahasa Inggris & satuan mata uang US$ setelah mendapat ijin dari Menteri Keuangan.

5. Harus ada dokumentasi dari kegiatan pembukuan / pencatatan & dokumen pendukung yang menjadi dasarnya & dokumen lain yang berhubungan dengan kegiatan usaha (pekerjaan bebas)  harus disimpan selama 10 tahun.
- See more at: http://solusibijak.com/pengantar-akuntansi-perpajakan#sthash.DDXDfxHj.dpuf


LANGKAH – LANGKAH PENULISAN KARYA ILMIAH


TAHAP PERSIAPAN
I. PERSIAPAN PENULISAN KARYA ILMIAH
A.    LANGKAH-LANGKAH PERSIAPAN PENULISAN KARYA ILMIAH
Pada dasarnya, hal terpenting yang harus dipikirkan oleh seorang penulis karya ilmiah pada tahap persiapan ini adalah Pemilihan Topik. Yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan topik adalah :
  1. Pemilihan Topik/ Masalah untuk Karya Ilmiah
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan pada saat menentukan topik untuk karya ilmiah. Dalam penulisannya harus mengikuti kaidah kebenaran isi, metode kajian, serta tata cara penulisannya yang bersifat keilmuan. Salah satu cara untuk memenuhi kaidah tersebut adalah dengan melakukan pemilihan topik yang jelas dan spesifik. Pemilihan unuk kerya tulis ilmiah dapat dilakukan dengan cara;
  1. Merumuskan tujuan
Rumusan tujuan yang jelas dan tepat menjadi sangat penting untuk dapat menghasilkan karya tulis ilmiah yang terfokus bahasannya. Tips yang dapat dilakukan untuk merumuskan tujuan diantaranya;
1)    Usahakan merumuskan tujuan dalam satu kalimat yang sederhana;
2)   Ajukan pertanyaan dengan menggunakan salah satu kata tanya terhadap rumusan yang kita buat;
3)   Jika kita dapat menjawab dengan pasti pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan, berarti rumusan tujuan yang kita buat sudah cukup jelas dan tepat.
b.    Menentukan Topik
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam menentukan topik adalah menentukan ide-ide utama. Kemudian uji dan tanya pada diri sendiri apakah ide-ide itu yang akan kita tulis.
c.    Menelusuri Topik
Bila topik telah ditentukan, kita masih harus memfokuskan topik tersebut agar dalam penulisannya tepat sasaran. Beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam memfokuskan topik;
1)    Fokuskan topik agar mudah dikelola;
2)    Ajukan pertanyaan

  1. Mengidentifikasi Pembaca Karya Ilmiah
Kewajiban seorang penulis karya ilmiah adalah memuaskan kebutuhan pembacanya akan informasi, yaitu dengan cara menyampaikan pesan yang ditulisnya agar mudah dipahami oleh pembacanya. Sebelum menulis, kita harus mengidentifikasi siapa kira-kira yang akan membaca tulisan kita. Hal tersebut perlu dipertimbangkan pada saat kita menulis karya tulis ilmiah agar tulisan kita tepat sasaran.

  1. Menentukan Cakupan Isi Materi Karya Ilmiah
Cakupan materi adalah jenis dan jumlah informasi yang akan disajikan di dalam tulisan.

II. PENGUMPULAN INFORMASI UNTUK PENULISAN KARYA ILMIAH
A.    MEMANFAATKAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER DATA, INFORMASI, DAN BAHAN UNTUK TULISAN
Perpustakaan pada umumnya menyediakan berbagai koleksi data atau informasi yang terekam dalam berbagai bentuk media, seperti media cetak dan media audiovisual. Hal pertama yang harus kita lakukan pada saat memasuki perpustakaan adalah memahami di mana letak sumber informasi yang dibutuhkan berada. Salah satu tempat yang patut kita tuju adalah bagian referensi. Bagian referensi ini biasannya berisi koleksi tentang encyclopedia, indeks, bibliografi, atlas dan kamus.
1.    Mencari Buku dengan Online Catalog dan Card Catalog
Pencarian buku dengan cara Online Catalog biasanya menggunakan terminal komputer. Kita dapat mencari buku dengan judul dan nama penulis yang jelas atau minta kepada komputer untuk mencarikan file-file yang berkaitan dengan topik yang sedang kita tulis.
Selain menggunakan komputer, kita juga dapat menggunakan Card Catalog untuk mencari buku atau artikel yang kita butuhkan. Pada umumnya, buku koleksi perpustakaan didata dalam 3 (tiga) jenis kartu katalog, yaitu katalog yang berisi data tentang pengarang/ penulis, judul buku dan subjek/ topik tertentu.
2.    Memeriksa Bahan-Bahan Pustaka yang Telah Diperoleh
Setelah bahan pustaka terkumpul kita harus memeriksa bahan-bahan tersebut apakah sesuai atau tidak dengan topik yang kita tulis. Cara memeriksa bahan pustaka tersebut adalah;
a.    Atur waktu membaca
b.    Bacalah secara selektif
c.    Bacalah secara bertanggung jawab
d.    Bacalah secara kritis
3.    Membuat Catatan dari Bahan-bahan Pustaka
Salah satu cara terbaik dan paling sederhana dalam membuat catatan ini adalah selalu mengacu pada kartu indeks yang telah kita buat.

4.    Membuat Ringkasan dan ‘Paraphrasing’
Disamping membuat catatan, kita pun dapat membuat ringkasan atau paraphrasing dari sumber  bacaan yang kita dapatkan di dalam menunjang keberhasilan proyek tulisan kita.

5.    Membuat Kutipan
Kita harus mengutip dengan persis dan apa adanya pernyataan dari sumber bacaan yang kita gunakan jika pernyataan tersebut merupakan pandangan mendasar dari penulis dan jika kita ubah ke dalam bahasa kita sendiri akan mengaburkan arti sesungguhnya.

B.    MELAKUKAN WAWANCARA UNTUK MENDAPATKAN INFORMASI UNTUK TULISAN
Ada empat hal yang harus diperhatikan pada saat akan melakukan wawancara untuk keperluan proyek penulisan karya ilmiah, yaitu;
1.    Menentukan orang yang tepat untuk diwawancarai
2.    Mempersiapkan pedoman wawancara
3.    Melaksanakan wawancara
4.    Mengolah hasil wawancara


TAHAP PROSES PENULISAN
Tahap Penulisan merupakan perwujudan tahap persiapan ditambah dengan pembahasan yang dilakukan selama dan setelah penulisan selesai.
  • Tahap Pra Penulisan
1.  Pemilihan dan pembatasan topik
2.  Merumuskan tujuan
3.  Mempertimbangkan bentuk karangan
4.  Mempertimbangkan pembaca
5.  Mengumpulkan data pendukung
6.  Merumuskan judul
7.  Merumuskan tesis
8.  Penyusunan ide dalam bentuk karangan atau outline

  • Pemilihan Topik
# Apa yang akan kita tulis?
#  Topik dapat diperoleh dari berbagai sumber.
#  Empat syarat: keterkuasaian, ketersediaan bahan, kemenarikan, kemanfaatan.
#  Agar lebih fokus, topik perlu dibatasi.

  • Tahap Penulisan Draf
-          Mengekspresikan ide-ide ke dalam tulisan kasar.
-          Pengembangan ide masih bersifat tentatif.
-          Pada tahap ini, konsentrasikan perhatian pada ekspresi/gagasan, bukan pada aspek-aspek  mekanik.

  • Tahap Revisi
-          Memperbaiki ide-ide dalam karangan, berfokus pada penambahan, pengurangan, penghilangan, penataan isi sesuai dengan kebutuhan pembaca.
-          Kegiatan: (a) membaca ulang seluruh draf, (b) sharing atau berbagi pengalaman tentang draf kasar karangan dengan teman, (c) merevisi dengan memperhatikan reaksi, komentar/masukan.

  • Tahap Penyuntingan
-          Memperbaiki perubahan-perubahan aspek mekanik karangan.
-          Memperbaiki karangan pada aspek kebahasaan dan kesalahan mekanik yang lain.
-          Aspek mekanik antara lain: huruf kapital, ejaan, struktur kalimat, tanda baca, istilah, kosakata, format karangan.

  • Tahap Publikasi
-          Tulisan akan berarti dan lebih bermanfaat jika dibaca orang lain.
-          Sesuaikan tulisan dengan media publikasi yang akan kita tuju.
TAHAP EVALUASI
Tahap terakhir yaitu verifikasi atau evaluasi, apa yang dituliskan sebagai hasil dari tahap iluminasi itu diperiksa kembali, diseleksi, dan disusun sesuai dengan fokus tulisan. Mungkin ada bagian yang tidak perlu dituliskan, atau ada hal-hal yang perlu ditambahkan, dan lain-lain. Mungkin juga ada bagian yang mengandung hal-hal yang peka, sehingga perlu dipilih kata-kata atau kalimat yang lebih sesuai, tanpa menghilangkan esensinya.
Ada lima kriteria yang bisa kita gunakan untuk mengevaluasi setiap bagian dari menulis sebagai berikut :

Fokus.
Apa yang Anda menulis tentang? Apa klaim atau tesis Anda membela? Kriteria ini adalah yang luas, berkaitan dengan konteks, tujuan, dan koherensi dari sepotong tulisan. Apakah topik Anda sesuai untuk tugas? Apakah Anda tetap pada topik itu atau terlena pada garis singgung tidak membantu? Apakah Anda berfokus terlalu teliti atau terlalu banyak? Misalnya, esai tentang Perang Saudara Amerika pada umumnya mungkin terlalu luas untuk esai perguruan tinggi yang paling. Anda mungkin akan lebih baik menulis tentang pertempuran tertentu, umum, atau kejadian.

Pembangunan.
Pembangunan berkaitan dengan rincian dan bukti. Apakah Anda menyediakan cukup bahan pendukung untuk memenuhi harapan pembaca Anda? Sebuah laporan penelitian yang tepat, misalnya, biasanya mencakup banyak referensi dan kutipan untuk banyak karya lain yang relevan beasiswa. Sebuah deskripsi lukisan mungkin akan mencakup rincian tentang, komposisi penampilan, dan bahkan mungkin informasi biografis tentang seniman yang melukisnya. Memutuskan apa rincian untuk menyertakan tergantung pada penonton dimaksudkan sepotong. Sebuah artikel tentang kanker ditujukan untuk anak-anak akan terlihat sangat berbeda dari satu ditulis untuk warga senior.

Organisasi
Organisasi, sering disebut “pengaturan,” menyangkut ketertiban dan tata letak kertas. Secara tradisional, kertas dibagi menjadi, tubuh kesimpulan pengenalan, dan. Paragraf terfokus pada gagasan utama tunggal atau topik (kesatuan), dan transisi di antara kalimat dan paragraf yang halus dan logis. Sebuah rambles kertas kurang terorganisir, melayang di antara topik yang tidak berhubungan dengan cara serampangan dan membingungkan.

Gaya
Gaya secara tradisional berkaitan dengan kejelasan, keanggunan presisi, dan. Sebuah stylist yang efektif tidak hanya mampu menulis dengan jelas untuk penonton, tetapi juga bisa menyenangkan mereka dengan bahasa menggugah, metafora, irama, atau kiasan. Penata Efektif bersusah payah tidak hanya untuk membuat titik, namun untuk membuatnya dengan baik.

Konvensi
Kriteria ini meliputi tata bahasa, mekanik, tanda baca, format, dan isu-isu lain yang ditentukan oleh konvensi atau aturan. Meskipun banyak siswa berjuang dengan konvensi, pengetahuan tentang di mana untuk menempatkan koma dalam sebuah kalimat biasanya tidak sepenting apakah kalimat yang berharga untuk menulis di tempat pertama. Namun demikian, kesalahan yang berlebihan dapat membuat bahkan seorang penulis brilian tampak ceroboh atau bodoh, kualitas yang jarang akan terkesan pembaca seseorang.

Sumber :

Wednesday, 6 November 2013

Resensi Film : CATATAN AKHIR SEKOLAH


Judul: CATATAN AKHIR SEKOLAH
Sutradara: Hanung Bramantyo
Skenario: Salman Aristo
Pemain: Ramon J. Tungka, Marcel Chandrawinata, Vino G. Bastian
Produksi: Rexinema

Catatan Akhir Sekolah adalah sebuah film produksi Rexinema yang berkisah tentang 3 anak SMU yang ingin membuat sebuah film dokumentertentang sekolahnya yang akan dipasang pada pentas seni akhir tahun. Film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo dengan menampilkan Vino BastianRamon Y Tungka, dan Marcel Chandrawinata, serta didukung oleh Christian Sugiono dan Joanna Alexandra.

Sudah mulai jengkelkah kita dengan film-film remaja di televisi? Remaja cantik versus remaja jahat dengan cerita dan persoalan di luar akal sehat?

Alhamdulillah, sutradara Hanung Bramantyo (memulai debutnya dengan film Brownies) dan penulis skenario Salman Aristo tidak masuk dalam kategori sineas klise yang ingin asal bikin film. Jadi, jangan kaget dan silakan terkesiap ketika muncul adegan awal yang orisinal--untuk ukuran sinema Indonesia--dan dahsyat itu. Kamera yang dipegang Tommy Jepang pada awal adegan awal berlangsung tanpa jeda, tanpa cut, selama delapan menit yang panjang. Rekaman itu memperkenalkan kehidupan anak-anak SMU Fajar Harapan yang kita kenal sebagai sebuah keseharian di lorong-lorong sekolah, di lapangan basket, di toilet, di dalam kelas, di luar kelas, di ruang pemutaran film, atau di kantin.

Adalah tiga lelaki SMA atau kelompok A3 yang "cupu" (culun punya = ini istilah masa kini untuk para pecundang). Mereka terdiri dari Agni (Ramon J. Tungka), kepala geng berkacamata, keras kepala, dan penuh teori; Alde (Marcel Chandrawinata, pemain baru dengan penampilan bersinar), sosok yang paling ganteng tapi pemalu dan anggota band di sekolahnya; dan Arian (Vino Bastian), yang meledak-ledak (setiap ledakan ditunjukkan dengan akting yang sama: sepasang tangan yang sibuk dengan suara yang nyaring), setia kawan, dan menggampangkan persoalan.

Untuk menggebrak "sejarah" dan menghancurkan citra "cupu", ketiga pecundang ini bersepakat membuat sebuah film dokumenter tentang kehidupan sekolah mereka: bagian gelap dan bagian penuh cahaya. Rekaman tentang mereka yang hidup dari menyontek dan mereka yang "tidak pernah menyontek seumur hidup". Atau rekaman anak masjid yang memulai kalimatnya dengan kutipan ayat Quran hingga membuat ketiga anak ini buru-buru salat karena ingin menjauhkan diri dari api neraka.

Rekaman tentang mereka yang kabur dari kelas dan klepas-klepus merokok di belakang sekolah; mereka yang OD (overdosis) narkoba; tentang seorang kekasih sialan yang kasar bernama Ray (Christian Sugiono) yang menampar pacarnya yang jelita dan ringkih, Alina (Joanna Alexandra). Tetapi dokumenter ini juga merekam mereka yang memberikan cahaya pada pendidikan, seperti guru-guru yang mengajar karena memang percaya bahwa setitik kontribusi dalam kelas adalah fondasi pada karakter anak-anak.

Ide cerita yang lahir dari Salman Aristo yang, menurut pengakuannya, "diawali oleh rasa sebal yang luar biasa saat menonton tayangan remaja di televisi" adalah sebuah upaya dokumentasi yang menjungkirbalikkan semua tayangan sinetron remaja di televisi. Artinya, film ini "melawan" stereotip sinetron, yang selalu menunjukkan tokoh anak-anak SMA yang baik (cantik atau ganteng) versus yang jahat (cantik, jahat, judes, dan penuh muslihat di luar akal sehat) yang lantas diwarnai dengan satu sosok nerd yang berkacamata tebal, yang hanya dirubung siswa pada saat ulangan, atau satu sosok gendut atau bencong yang fungsinya untuk ditertawakan penonton.

Film Catatan Akhir Sekolah adalah bentuk yang mendekati realitas anak-anak sekolah masa kini, justru karena para sineasnya tak harus memajang wajah-wajah ganteng dan kemewahan yang tak masuk di akal. Wajah 1.000 figuran anak sekolah yang "cuma" figuran itu tampil berkeringat, bau angkot dan metromini, diselingi shot-shot toilet jorok SMA atau upaya masturbasi seorang siswa lelaki yang mengintip rok siswi di kelasnya, yang tampak begitu nyata dan tidak dipulas kosmetik apa pun.

Jika sosok Pak Boris (Joshua Pandelaki yang tampil komikal) disajikan sebagai tokoh antagonis--kepala sekolah genit, korup, dan diskriminatif--tentu saja karena sutradara Hanung Bramantyo dan penulis Salman Aristo pada akhirnya membutuhkan contoh karakter amoral yang harus diberi ganjaran. Pembuktian? Bukankah tiga anak ini tengah membuat film dokumenter? Anda bisa menebak, akhir film ini kemudian jadi banyak keinginan seperti penyakit film Hollywood dan film Indonesia yang kepingin betul penontonnya merasa "plong".

Film dokumenter yang bagus banget itu disajikan dalam pesta akhir tahun sekolah. Ini termasuk tingkah polah Pak Boris dengan duit yang menghebohkan khalayak penonton. Seiring keramaian pesta itu, persoalan cinta kelompok A3 itu sekaligus "diselesaikan"; murid korban narkoba itu tampak "kembali ke jalan yang benar"; murid sialan yang beraninya gampar cewek itu cemberut melihat tayangan dirinya; dan seterusnya.

Oh ya, dan malam itu juga Pak Boris yang korup dikerubungi guru dan satpam, entah mau dibawa ke mana, mungkin ke polisi, mungkin ke "pengadilan internal". Pokoknya, dia diganjar! Lucu. Hanung dan Salman toh ingat, dalam realitas, koruptor dan penjahat di Indonesia jarang bisa diganjar justru karena kita hidup di negara yang paling korup di dunia. Artinya, dalam hidup nyata, sosok Boris akan tetap hidup dengan jaya. Kelompok A3 itu malah biasanya akan dicerca.

Akhir film yang kontradiktif dari seluruh realitas yang dibangun sejak awal mungkin memperlihatkan: sineas Indonesia memang masih belajar. Tidak apa-apa. Ini tetap film yang bagus, yang orisinal, layak tonton, dan layak dicatat sebagai salah satu film Indonesia yang berani melawan kedunguan televisi.